

Jakarta, Kompas (8/6/2007) - Stasiun Kereta Api Beos atau Jakarta Kota di Jakarta Barat dirombak total. Tempat itu kini ditambah pula dengan sarana penunjang baru berupa ruang pamer, seperti museum mini, perpustakaan, dan fasilitas lain, sebagai sarana pendidikan serta wisata sejarah.
Kepala Humas PT Kereta Api Daerah Operasi (Daops) I Akhmad Sujadi yang ditemui hari Kamis (7/6) menjelaskan, saat ini hal Stasiun Beos sudah ditata ulang sehingga memudahkan sirkulasi penumpang. "Pintu utama kami tutup sehingga penumpang keluar atau masuk dari pintu Pinangsia atau Gedung BNI 1946. Belasan kios di dalam stasiun juga dibongkar demi kenyamanan penumpang," katanya.
Berdasarkan hasil pemantauan, kondisi ruang utama terlihat lega setelah kios dan loket darurat dibongkar. Penataan itu mendekati wujud awal Stasiun Beos yang dibuka tahun 1929.

Lokomotif Pertama
Selain itu, disediakan fasilitas pendidikan berupa model kereta api dan ruangan bagi komunitas pencinta kereta dari dalam dan luar negeri. Lokomotif listrik pertama buatan Werkspoor Belanda yang dijuluki Si Bon-Bon buatan 1920-an juga akan dipajang di salah satu sudut Stasiun Beos.
Pengamat seni dan sejarah Haw Ming mengungkapkan, Stasiun Beos merupakan salah satu tonggak sejarah pemekaran Kota Batavia awal abad ke-20 Masehi yang perlu dipertahankan.
"Stasiun Beos juga merupakan mahakarya arsitek kenamaan Frans Johan Louwrens (FJL) Ghijsels. Sudah sepantasnya dilakukan revitalisasi atas bangunan itu," ujar Haw Ming. (Ong)
(Sumber : http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/08/metro/3586519.htm; Ket: Photo-2 ditambahkan oleh MasOye)